Aku baru saja membaca ulang salah satu koleksi novelku yang berjudul Orange. Novel itu membuka banyak sisi kehidupan yang tak pernah kusentuh sama sekali. Kehidupan para pebisnis Metropolitan. Novel itu juga menuliskan tentang betapa sakitnya, jika orang yang kita sayang lebih memilih orang lain. Juga tentang arti sebuah pengorbanan demi cinta.
Bittersweet. Hidup itu memang selalu ada suka dan duka. Manis dan pahit. Tidak selamanya semua hal berjalan sesuai dengan keinginan kita. Tapi yang perlu kita percaya hanya satu. Bahwa semua hal di dunia ini pasti akan ada akhir yang indah. Akhir yang akan mambuat semua orang tersenyum.
Hidup itu sebuh pilihan. Sama seperti kita saat akan membeli dan memakan jeruk. PAsti akan ada jeruk yang rasanya manis dan asam. Jika jeruk itu manis, kita akan terus memakannya. Namun, jika jeruk yang kita dapat asam, tanpa pikir panjang pasti kita akan langsung membuangnya. Membuang jeruk yang asam itu, tak berarti kita akan langsung bisa merasakan jeruk yang manis. Butuh proses dan waktu agar kita bisa memilih dan menikmati jeruk yang manis.
Dalam proses dan penantian itu, bukan berarti kita tak bisa bahagia. Kebahagiaan bisa diperoleh dari mana saja. Dari siapa saja. Dan satu yang pasti, jeruk itu akan selalu membawa banyak rasa dalam kehidupan kita...
( Kudapat ide tulisan ini saat bersantai membaca novel Orange sambil makan jeruk. Kebetulan, jeruk yang kumakan itu rasanya asam. Saat makan, aku jadi ingat saat-saat aku sedang merasakan asam dalam hidup. Namn, setelah melewati waktu, aku kini sudah bisa mengecap lagi manis jeruk itu...)














