Selasa, November 10, 2009

Bittersweet

"Jeruk itu seperti hidup. Bittersweet..."

Aku baru saja membaca ulang salah satu koleksi novelku yang berjudul Orange. Novel itu membuka banyak sisi kehidupan yang tak pernah kusentuh sama sekali. Kehidupan para pebisnis Metropolitan. Novel itu juga menuliskan tentang betapa sakitnya, jika orang yang kita sayang lebih memilih orang lain. Juga tentang arti sebuah pengorbanan demi cinta.

Bittersweet. Hidup itu memang selalu ada suka dan duka. Manis dan pahit. Tidak selamanya semua hal berjalan sesuai dengan keinginan kita. Tapi yang perlu kita percaya hanya satu. Bahwa semua hal di dunia ini pasti akan ada akhir yang indah. Akhir yang akan mambuat semua orang tersenyum.

Hidup itu sebuh pilihan. Sama seperti kita saat akan membeli dan memakan jeruk. PAsti akan ada jeruk yang rasanya manis dan asam. Jika jeruk itu manis, kita akan terus memakannya. Namun, jika jeruk yang kita dapat asam, tanpa pikir panjang pasti kita akan langsung membuangnya. Membuang jeruk yang asam itu, tak berarti kita akan langsung bisa merasakan jeruk yang manis. Butuh proses dan waktu agar kita bisa memilih dan menikmati jeruk yang manis.

Dalam proses dan penantian itu, bukan berarti kita tak bisa bahagia. Kebahagiaan bisa diperoleh dari mana saja. Dari siapa saja. Dan satu yang pasti, jeruk itu akan selalu membawa banyak rasa dalam kehidupan kita...

( Kudapat ide tulisan ini saat bersantai membaca novel Orange sambil makan jeruk. Kebetulan, jeruk yang kumakan itu rasanya asam. Saat makan, aku jadi ingat saat-saat aku sedang merasakan asam dalam hidup. Namn, setelah melewati waktu, aku kini sudah bisa mengecap lagi manis jeruk itu...)

Kamis, November 05, 2009

Cermin Diri

Apa kalian pernah membuat cermin untuk diri sendiri?

Cermin yang memantulakan segala kelebihan dan kelemahan yang ada pada diri kita.

Dalam tulisanku kali ini, aku hanya ingin merefleksikan diri lewat cermin diri itu.

Dulu, aku selalu merasa takut dan enggan untuk berusaha. Walau kadang tahu apa yang kuinginkan ada di depan mata, aku masih saja takut untuk melangkah dan maju.

Dulu, aku selalu diam tak berani bicara apa yang sedang kurasakan. Aku cenderung diam dan mendengarkan. Tanpa pernah berani mengungkapkan pendapatku.

Aku juga sadar, aku bukanlah orang sempurna yang selalu berada dalam jalan yang benar. Ada kalanya aku jatuh dan terperosok dalam masalah yang tak bisa kupendam sendiri.

Dari semua yang sudah ku alami, aku belajar untuk menjadi seseorang yang kuat. Aku belajar mengekspresikan semua perasaan yang aku rasakan. Aku belajar untuk terbuka dan membuka mata lebih lebar lagi.

Sekarang, entah kenapa, semua orang mengenalku sebagai orang yang sabar dan sangat perngertian. Seorang temanku pernah berkata,

"Kamu tuh kayak bisa baca perasaan orang ya! Selalu tau kapan aku lagi bete atau seneng."

Kadang aku berpikir, apa benar ya aku seperti itu? Semua perubahan pada diriku berlangsung seiring dengan mengalirnya waktu. Seiring dengan jalan yang sudah digariskan-Nya. Walau aku juga pernah mengeluh, kenapa aku jatuh pada lubang masalah ini?

Kenapa aku harus jatuh cinta pada orang yang salah? Namun, setelah semua masalah itu berlalu, datanglah orang mengobati semua luka itu dengan tulus.

Mengingat semua itu, aku jadi semakin sadar. Bahwa aku memang tak sempurna. Ada banyak kekurangan dan hal yang harus kugali lebih dalam lagi. Aku ingin bisa bercermin lagi ke dalam diriku.Mencari semua hal yang memang harus kucari...


Senin, November 02, 2009

Sahabat dan Cinta

Hari ini menjadi hari senin yang paling tak mengenakkan. Tugas menumpuk. Tapi tugas yang paling sulit, adalah drama bahasa jawa. Kalau hanya drama biasa sih tak apa. Tapi ini drama dalam bahasa jawa. Kepalaku pusing setengah mati...

Oya, tadi teman sekelasku minta pendapatku. Yah, sebutlah namanya Vio. Vio itu sedang dekat dnegan cowok anak SMA lain sebut saja Andi. Vio bilang, kalau di depan Andi dia bisa jadi dirinya sendiri dan merasa bebas. Dia merasa nyaman bersahabat dengan Andi. Tapi di lain pihak, Vio takut jika suatu saat nanti hubungan mereka itu berubah jadi pacar. Dia takut nantinya semua rasa bebas yang ia rasakan akan hilang.

Aku mengerti benar perasaannya. Karena aku sendiri juga mengalami hal yang sama. Aku punya teman sejak kecil, namanya Bintang. Aku dan Bintang itu sudah berteman dan sekelas sejak masih TK dulu. Kami benar-benar dekat samapi SMP dulu. Sampai suatu saat semua teman mengira kami pacaran. Sejak itu seperti ada jarak diantara kami. Dan setelah kejadian itu, aku juga baru tahu kalau ternyata Bintang itu suka padaku. Tapi pada akhirnya, aku memilih kami lebih baik jadi teman. Dan ternyata Bintang bisa menerima keputusanku. Kami kembali jadi sahabat seperti dulu lagi, walau tak sedekat dulu lagi.

Memang, jika kita sudah merasa nyaman bersehabat dengan teman lawan jenis sering ada ketakutan tersendiri. Takut semua hubungan baik yang sudah dijalin akan rusak, atau rasa nyaman yang hilang dan digantikan rasa canggung. Hal itu banyak terjadi.

Memang susah jika pada awalnya kita sudah mersa nyaman dengan persahabatan. Rasa cinta yang tiba-tiba muncul sering menimbulakan rasa canggung. Aku sendiri pernah kok mersakan takut dan canggung itu, mungkin semua orang juga pernah merasakannya.

Tapi dari semua persahabatan dengan lawan jenis, aku paling nyaman bersahabat dnegan Faizal. Kami sudah bersahabat sejak SMP. Hal yang paling membuatku bahagia adalah persahabatan kami sama sekali tak dibumbui dnegan rasa cinta. Hanya rasa sayang persahabatan dan persaudaraan yang ada. Mungkin bagiku inilah persahabatan yang teridah, walau kadang juga membuat Wisnu cemburu.

Bagaimana persahabatan kalian???


Sabtu, Oktober 31, 2009

Pilihan

Minggu ini menjadi minggu yang paling melelahkan. Aku punya setumpuk tugas presentasi dan naskah yang harus segera kuselesaikan. Aku makin dipusingkan oleh adik-adik kelasku yang masih belum tega kulepas sendiri.

Aku juga kemarin tak sengaja bertemu Rofik, teman SMPku dulu. Saat ngobrol, dia berkali-kali mengucapkan maaf dan terima kasih padaku. Terima kasih karena aku sudah membantunya lepas dari masalahsaat SMP dulu, dan maaf karena pernah bilang suka juga dulu. Aku sebenarnya dulu juga sempat suka padanya, tapi kubatalkan. Mengingat dia punya fans bejibun yang siap membunuhku kapan saja saat itu ( Rofik sangat sering curhat padaku, sampai muncul gosip kami pacaran)

Oya, kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang seorang teman sekelasku yang sedikit menyebalkan...

Sebut saja namanya Lila. Lila itu termasuk anak yang pintar. Kemampuan otaknya sudah tak diragukan lagi. Namun, ada satu kelemahan yang membuatnya kerap dibenci oleh teman-temanku. Lila itu sombong dan sangat angkuh. Dia juga termasukorang yang tak bisa menerima kekalahan dan egois. Dia tak pernah mau mengajari teman-temannya yang bertanya soal pelajaran. Seolah kepintarannya itu hanya ingin dimakannya sendiri.

Pada saat ulangan Matematika kemarin, Lila hanya mendapat nilai 85. Dan dikelasku yang mendapat nilai tertinggi adalah Fauziah. Sikap Lila pada Fauziah langsung berubah 180 derajat setelah itu. Lila tak pernah mau menyapa dan selalu membuang wajah tiap bertemu Fauziah.

Namun, yang membuatku miris adalah saat presentasi Sosiologi kemarin.

Fauziah satu kelompok denganku. Pada saat kelompok kami maju, Lila mengajukan pertanyaan. Dan pertanyaan itu dijawab oleh Fauziah dengan membaca sebuah buku cetak. Namun, apa kalian tahu reaksi Lila?

"Jawabannya salah lhe,,"

Fauziah cuma diam saja. Tapi aku benar-benar gemas pada sikap Lila itu. Dan tanpa pikir panjang lagi aku langsung menjawab,

"Kalo udah tahu jawabannya ngapain tanya? kamu bilang salah berarti tau jawabannya kan? Terus yang bener apa?"

Waktu itu satu kelas langsung bengong melihat reaksiku. Yah, wajar saja, selama ini tak ada yang berani pada Lila. Aku sendiri cuek saja. Yang kulakukan hanyalah naluri hati. Aku tak tega melihat Fauziah.

Sebenarnya, apalah artinya kepintaran kalau kita tak bisa mengimbanginya dengan hati dan pikiran. Juga kalau kita tak bisa menjaga hati dan perasaan orang lain. Iya kan? Menjdi pintar namun selalu sendiri. Atau mejadi orang biasa namun mempunyai banyak teman yang bisa dijadikan acuan dan sandaran.

Semuanya memang pilihan dalam hidup.Pilihan itu bisa dipilih dnegan benar kalau kita menjalanihidup sesuai dengan apa yang kita inginkan. Saat kita hidup dengan membawa dan menjaga hati. Tak hanya hati dan perasaan kita saja, tapi juga hati dan perasaan semua orang...